October 21st, 2014
October 20th, 2014
Rinduku pada aksara
Akankah meretas?

Ketidak-pastian yang aku eja dengan canggung

Sudah lama berhenti mengeja pada kata ketidak-pastian. Bukan lelah rasanya tapi akhir dari kalimat dalam satu paragraf itu aku sudah tau pasti apa. Hingga menjaga pada batas yang dapat aku jaga. Karna semua sudah tertebak dari langit abu.

Pagi ini berubah.


Ahli dalam satu bidang menyelamatkan. Dalam ketidak-pastian aku mengeja kembali pada batas yang canggung. Satu dua kenangan mungkin dapat disimpan untuk hanya disimpan. Seperti sebelumnya. Tidak pernah bergerak. Tidak pernah tumbuh. Tetap.


Bahagia dalam dunia masing-masing.

bookpatrol:

Wolfman’s Books by kylejglenn on Flickr.
A Wild Vortex of Books Flying Right at You.

bookpatrol:

Wolfman’s Books by kylejglenn on Flickr.

A Wild Vortex of Books Flying Right at You.

(via fuckyeahbookarts)

October 9th, 2014

Ketika sajak tak lagi dibuat

Dulu, bersajak tentang rindu sangat mudah.
Puluhan mungkin dapat aku buat dalam semalam.
Kosong dalam hidup-pun aku masih rasa rindu.
Rindu mengisi celah-celah yang ditinggalkan.
Sehingga kosong tidak benar adanya, karna aku punya rindu.

Hingga hilang dalam telanan hari.
Sajakku tak lagi punya makna.
Apalah artinya sajak tanpa tuan.
Puan yang tak punya tuan.

Berhenti dalam malam, tak jua bergetar.
Tak lagi ada debar ketika harus kembali “pulang”
Dalam langkah tak lagi ada nama menggema.
Tak lagi ada harus dalam pertemuan yang disengaja.
Berbisik dalam senyum “aku senang”.

Kemudian terbitlah malas dalam hati.
Memulai mencari atau sengaja tak dicari.
Rasanya imajinasi lebih layak dibandingkan fakta.
Bisa diatur tanpa ada rasa kecewa.

Aku berhenti.

Hingga kembali menemukan getarannya.

October 6th, 2014

Nama bisa sama, tempat bisa beda.

Sore tadi saya keluar, mampir ke loka buat nge-sok. Minimal udah tau itu tempat apaan. Udah janjian juga sama adek kosan, masih gak tau kemana yang jelas mau ketemu aja. Pas di loka dia sms, saya bales gak bisa-bisa akhirnya dia nelpon.

N : mbak dimana?
Gw : lagi di loka nih, mau ketemuan dimana deh?
N : yang deket ajalah dari kampus dimana ya?
Gw : gw ngikut lo aja deh kemana aja, ntar gw kesana.
N : yaudah bakers king aja deh.

*kondisi pas nelpon ribut jadi yang gw tangkep ketemuan di bakes*

Jadi bakers king di Malang itu ada dua, satu di MX (deket kampus) yang satu lagi di MOG. Tanpa pikir panjang dong gw langsung berangkat ke MX yang deket dari kampus.
Sampe sana celingukan gak ketemu, akhirnya dari pada bengong mendingan gw pesen donat sama minum. Udah setengah jalan makan, line baru aktif dapet gratisan wifi. Adek kosan gw ngeline.

N : mbak bakers MOG yah.
Gw : (((Jeng Jeng)))

Sekian.
Paketan habis,rugi nikmat makan donat.

August 30th, 2014
Kekayaan orang berakal adalah ilmunya dan kekayaan orang bodoh adalah hartanya.
Ali bin Abi Thalib (via kuntawiaji)
August 19th, 2014

Cita-Cita adalah Sebuah Pembelajaran

Kerika masih kecil pasti sering sekali kita mendapatkan pertanyaan “cita-citanya mau jadi apa?” atau “kalo udah gede nanti mau jadi apa!” dan banyak pertanyaan lainnya yang memiliki inti yang sama hanya berbeda susunan kalimatnya saja.

Ketika saya mendapatkan pertanyaan itu saya tidak bisa menjawab. Karena pekerjaan yang umum—dokter, guru, pilot, astronot— yang sering menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut tidak menarik bagi saya. Semenjak saya masih kecil saya selalu menjawab pertanyaan klise tersebut dengan jawaban yang klise juga. Tanpa mengerti hal menarik apa yang ada pada jawaban-jawaban tersebut.

Yang saya ingat saya ingin sekali memiliki sebuah kedai pada saat itu saya berfikir pemilik kedai makanan adalah pekerjaan terkeren sepanjang masa. Karena saya senang mencorat-coret (bukan menggambar) saya selalu membuat coretan tentang sebuah kedai kecil dengan logo gelas kaki satu khas sajian minuman di kedai-kedai atau menggambar tiga scoop es krim dengan potongan buah ceri diatasnya.
Ketika beranjak dewasa pun saya juga masih belum mengetahui apa yang menjadi ketertarikan saya, hingga akhirnya di awal kelas tiga SMA saya memutuskan untuk mengambil jurusan Teknologi Pangan. Satu hal yang terlintas ketika saya mengambil jurusan tersebut, mungkin saja hal tersebut dapat membantu saya mewujudkan coretan yang sering saya gambarkan dibenak saya.

Kuliah jauh dari kota asal membuat saya tertampar. Jauh dari “kesenangan” yang dulu bisa saya dapatkan dengan mudah. Banyak hal yang semakin membuat saya banyak belajar ketika kuliah, karena sebagian list yang saya harus lakukan selama menyandang menjadi mahasiswa hanya menjadi sebuah bualan belaka.
Semester demi semester berjalan dan keinginan memiliki sebuah kedai impian-pun semakin menggebu setelah melihat pesatnya industri kuliner di kota tersebut. Berkali-kali mengajukan proposal kepada penyandang dana tunggal yang akhirnya di pertengahan semester enam semua itu dapat tercapai dengan konsep yang tidak tertata, dan kondisi perkuliahan yang sedang tergantung pada tiang-tiang sutet.

Hal tersebut membuat “mimpi” yang selalu saya gambarkan sangat indah berubah menjadi mimpi buruk, dan kesialan berikutnya ketika terbangun hal tersebut benar-benar terjadi :))


Well said i’m really depressed. Until this time when i’m write this notes :))

Terus sialnya lagi pas scrolling lini masa twitter pas liat ada tweet yang bilang “pengen deh punya uang sendiri biar gak sungkan kalo mau beli atau pergi”

Hahahahahahahahaha.

Itu adalah alasan terbesar saya mengapa saya nekat bikin usaha. Dan kenyataannya? BESAR PASAK DARI PADA TIANG. Uang modal awal abis kepake buat nutup bahan baku yang gak kepake, gaji kariawan gak kebayar, uang listrikairdll terseok-seok bayarnya. Im totally down. Mental breakdown. Berharap libur semester ini bisa membuat kejenuhan saya menghilang tapi nyatanya….. Saya tetap tidak bisa tertidur bahkan hingga larut karena otak tetap saja berfikir.

Selalu saja ada respon negatif dari otak saya yang membuat pertanyaan pertanyaan menjatuhkan mental diri sendiri. Bahkan buat kembali untuk melanjutkan kembali pun rasanya teramat sangat takut. Dan hal yang paling down adalah merasakan bagaimana rasanya ditanya seantero keluarga gimana bisnisnya dan yang paling parah adalah kerika orang rumah udah gak interest dan ngerasa pekerjaan yang saya lakuin cuma ngabisin banyak uang.


But i am really great full in another side.

I know how difficult it is, jadi lebih bijak buat segala hal. Kalo kata chanyoel sih “aku bertambah dewasa” dengan semua kesulitan yang dihadapi.

And how i solve this?

Sampe sekarang saya masih gak tau kedepan bakal berhasil atau tetep atau mungkin tambah buruk. Im really don’t know i don’t wanna expect to much. And when everything goes wrong maybe i will remember this quote from my dearest ex roommate “Jangan pantang menyerah, ada jatah gagal yang harus kita habiskan di masa muda”

Selamat dini hari, pikiran yang terus terbeban. Semoga sedikit bebanya bisa menghilang bersamaan dengan tanda titik di postingan ini.

Itu adalah konflik antara Apollo dan Dionysus — sebuah dilema yang saat terkenal dalam dunia mitologi pertarungan abadi antara otak dan hati, sering kali menginginkan hal yang berlawanan
Dan Brown dalam Inferno
August 6th, 2014
hannahkc:

alboardman: London Animated

hannahkc:

alboardman: London Animated

(via typejunkie)