August 19th, 2014

Cita-Cita adalah Sebuah Pembelajaran

Kerika masih kecil pasti sering sekali kita mendapatkan pertanyaan “cita-citanya mau jadi apa?” atau “kalo udah gede nanti mau jadi apa!” dan banyak pertanyaan lainnya yang memiliki inti yang sama hanya berbeda susunan kalimatnya saja.

Ketika saya mendapatkan pertanyaan itu saya tidak bisa menjawab. Karena pekerjaan yang umum—dokter, guru, pilot, astronot— yang sering menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut tidak menarik bagi saya. Semenjak saya masih kecil saya selalu menjawab pertanyaan klise tersebut dengan jawaban yang klise juga. Tanpa mengerti hal menarik apa yang ada pada jawaban-jawaban tersebut.

Yang saya ingat saya ingin sekali memiliki sebuah kedai pada saat itu saya berfikir pemilik kedai makanan adalah pekerjaan terkeren sepanjang masa. Karena saya senang mencorat-coret (bukan menggambar) saya selalu membuat coretan tentang sebuah kedai kecil dengan logo gelas kaki satu khas sajian minuman di kedai-kedai atau menggambar tiga scoop es krim dengan potongan buah ceri diatasnya.
Ketika beranjak dewasa pun saya juga masih belum mengetahui apa yang menjadi ketertarikan saya, hingga akhirnya di awal kelas tiga SMA saya memutuskan untuk mengambil jurusan Teknologi Pangan. Satu hal yang terlintas ketika saya mengambil jurusan tersebut, mungkin saja hal tersebut dapat membantu saya mewujudkan coretan yang sering saya gambarkan dibenak saya.

Kuliah jauh dari kota asal membuat saya tertampar. Jauh dari “kesenangan” yang dulu bisa saya dapatkan dengan mudah. Banyak hal yang semakin membuat saya banyak belajar ketika kuliah, karena sebagian list yang saya harus lakukan selama menyandang menjadi mahasiswa hanya menjadi sebuah bualan belaka.
Semester demi semester berjalan dan keinginan memiliki sebuah kedai impian-pun semakin menggebu setelah melihat pesatnya industri kuliner di kota tersebut. Berkali-kali mengajukan proposal kepada penyandang dana tunggal yang akhirnya di pertengahan semester enam semua itu dapat tercapai dengan konsep yang tidak tertata, dan kondisi perkuliahan yang sedang tergantung pada tiang-tiang sutet.

Hal tersebut membuat “mimpi” yang selalu saya gambarkan sangat indah berubah menjadi mimpi buruk, dan kesialan berikutnya ketika terbangun hal tersebut benar-benar terjadi :))


Well said i’m really depressed. Until this time when i’m write this notes :))

Terus sialnya lagi pas scrolling lini masa twitter pas liat ada tweet yang bilang “pengen deh punya uang sendiri biar gak sungkan kalo mau beli atau pergi”

Hahahahahahahahaha.

Itu adalah alasan terbesar saya mengapa saya nekat bikin usaha. Dan kenyataannya? BESAR PASAK DARI PADA TIANG. Uang modal awal abis kepake buat nutup bahan baku yang gak kepake, gaji kariawan gak kebayar, uang listrikairdll terseok-seok bayarnya. Im totally down. Mental breakdown. Berharap libur semester ini bisa membuat kejenuhan saya menghilang tapi nyatanya….. Saya tetap tidak bisa tertidur bahkan hingga larut karena otak tetap saja berfikir.

Selalu saja ada respon negatif dari otak saya yang membuat pertanyaan pertanyaan menjatuhkan mental diri sendiri. Bahkan buat kembali untuk melanjutkan kembali pun rasanya teramat sangat takut. Dan hal yang paling down adalah merasakan bagaimana rasanya ditanya seantero keluarga gimana bisnisnya dan yang paling parah adalah kerika orang rumah udah gak interest dan ngerasa pekerjaan yang saya lakuin cuma ngabisin banyak uang.


But i am really great full in another side.

I know how difficult it is, jadi lebih bijak buat segala hal. Kalo kata chanyoel sih “aku bertambah dewasa” dengan semua kesulitan yang dihadapi.

And how i solve this?

Sampe sekarang saya masih gak tau kedepan bakal berhasil atau tetep atau mungkin tambah buruk. Im really don’t know i don’t wanna expect to much. And when everything goes wrong maybe i will remember this quote from my dearest ex roommate “Jangan pantang menyerah, ada jatah gagal yang harus kita habiskan di masa muda”

Selamat dini hari, pikiran yang terus terbeban. Semoga sedikit bebanya bisa menghilang bersamaan dengan tanda titik di postingan ini.

Itu adalah konflik antara Apollo dan Dionysus — sebuah dilema yang saat terkenal dalam dunia mitologi pertarungan abadi antara otak dan hati, sering kali menginginkan hal yang berlawanan
Dan Brown dalam Inferno
August 6th, 2014
hannahkc:

alboardman: London Animated

hannahkc:

alboardman: London Animated

(via typejunkie)

July 8th, 2014

Sebut saja ini drama!

20.44

Lagu mengalun dari playlist, dan semua yang terputar rasanya semua sendu. Kemudian terisak sendiri lalu berhenti lalu terisak lagi.


Aku tak sekuat itu, menahan semuanya.


Sendiri memang menyeramkan.

June 27th, 2014
Dibalik jendela, aku menyingkap tanya. Mengapa hujan tidak datang, kemana aku harus menyembunyikan tangis?
Life is like a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.
Albert Einstein  (via psych-facts)

Inklinasi

satriamaulana:

Ada kalanya dimana kita akan berdoa untuk meminta semoga diri ini dikuatkan dalam menghadapi segala cobaan yang ada, bukan meminta dipermudah cobaannya.

Sesederhana memercayai bahwa tingkat kesulitan yang disediakan oleh-Nya sudah dipersiapkan dengan amat baik untuk meningkatkan kapasitas kita.

Bukan menjadi jemawa, tapi hanya sepenuhnya berbaik sangka dan menaruh percaya pada kebaikan dinamika.

June 6th, 2014
You only lose when you give up.
Unknown (via psych-facts)
There are people who can’t stop caring about others too much for they do know what it feels to be alone and left behind.
njchvrcmr (via psych-facts)
June 5th, 2014
Who cares? No one.
Its your resposibility!